Konsep Belajar

Kita sering mendengar seorang ibu yang mengatakan bahwa anaknya baru belajar merangkak atau belajar berjalan. Di sekolah seorang guru yang kecewa dengan nilai formatif siswanya mengatakan bahwa nilai yang tidak memuaskan itu didapat karena siswanya tersebut malas belajar. Jika kita perhatikan anak-anak yang sedang asyik membaca buku, berdiskusi di dalam kelompok, atau seorang siswa sedang tekun menyelesaikan tugas matematika, apakah dapat dikatakan mereka sedang belajar? Jawabannya tentu ya atau tidak.

Untuk memahami konsep belajar secara utuh, perlu kita perhatikan pandangan dari para pakar psikologi dan pakar pendidikan. Pandangan kedua kelompok pakar tersebut sangat penting karena perilaku belajar merupakan bidang telaah atau bidang kajian keilmuan mereka. Pakar psikologi melihat perilaku belajar sebagai proses psikologi individu dalam interaksinya dengan lingkungan secara alami. Sedangkan pakar pendidikan melihat perilaku belajar sebagai proses psikologis-pedagogis yang ditandai adanya interaksi individu dengan lingkungan belajar yang sengaja diciptakan.

Menurut Bell-Gredler (1986:1), belajar adalah proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes). Ketiga kemampuan tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan sejak dari bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat baik melalui pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Pengertian belajar yang diberikan Bell-Gredler ini cukup komprehensif.

Konsep belajar dapat digali dari berbagai sumber seperti filsafat, penelitian empiris, dan teori. Filosofis Plato, dalam Bell-Gredler (1986:14-16) melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang ada dalam diri manusia dan dibawa dari lahir. Sementara itu Aristoteles melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang ada dalam dunia fisik bukan dalam pikiran. Kedua pandangan filosofis tersebut memberi makna yang berbeda pada pandangan tentang belajar. Bagi penganut filsafat idealisme (Plato), sumber pengetahuan adalah ide dalam diri manusia, dan proses belajar adalah pengembangan ide yang telah ada dalam pikiran. Bagi penganut realisme (Aristoteles), realita terdapat dalam dunia fisik, sumber pengetahuan adalah pengalaman sensori, dan belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungan fisik.

Pandangan lainnya tentang belajar berasal dari para ahli psikologi seperti Wiliam James, John Dewey, James Cattel, dan Edward Thorndinke tahun 1890-1900 (Bell-Gredler, 1986:20-25). Pada dasarnya para ahli psikologis melihat belajar sebagai proses psikologis yang disimpulkan dari hasil penelitian tentang bagaimana anak berfikir (Hall:1883), atau disimpulkan dari bagaimana binatang belajar (Thorndinke:1898), atau dari hasil pengamatan praktek pendidikan (Dewey:1899).

Sejalan dengan berkembangnya disiplin psikologi pada awal abad 20, berkembang pula berbagai pemikiran tentang belajar yang digali dari berbagai penelitian empiris, yaitu teori behaviorisme dan teori gestalt. Menurut teori behavior berdasarkan penelitian Ivan Pavlov, V.M. Bechtereve, dan A.B. Watson, belajar adalah proses relasi antara stimulus dan respon (S-R), sedangkan menurut teori gestalt belajar adalah relasi antara bagian dengan totalitas pengalaman. Sejak saat itu berkembanglah berbagai teori belajar yang bertolak dari ontologi penelitian yang berbeda tetapi semua bertujuan untuk menjelaskan bagaimana sesungguhnya belajar terjadi.

Belajar sering juga diartikan sebagai penambahan, perluasan, dan pendalaman pengetahuan, nilai dan sikap, serta pengetahuan. Fontana (1981), secara konseptual mengartikan belajar adalah suatu proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Gagne (1985) juga menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan. Demikian pula Bower dan Hilgard (1981) menyatakan, bahwa belajar mengacu pada perubahan perilaku atau potensi individu sebagai hasil dari pengalaman dan perubahan tersebut tidak disebabkan oleh insting, kematangan atau kelelahan dan kebiasaan.

Konsep belajar dalam konteks tujuan pendidikan nasional dimaknai sebagai belajar untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab.

Disarikan dari: Winataputra. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Hal: 1.4-1.8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *