Mengapa Manusia Makhluk Sempurna?

Pada suatu malam yang sepi mencekam menjelang tidur terjadilah perdebatan yang lumayan sengit antara Jono dan Joni. Maklum si Jono itu orangnya suka ngotot. Pasalnya, tadi siang Dia bertemu dengan seorang sahabatnya ketika melayat kerabat tetangga yang meninggal dunia. Sahabatnya itu ada memelihara tiga ekor anjing yang ditugaskan menjaga ladang cabenya.

Dengan duduk sambil menggoyangkan kaki, sahabat si Jono itu bercerita.
“Dulu aku memelihara dua ekor anjing yang kupinta dari E. Tarigan, beberapa bulan kemudian tanpa kupinta aku diberi seekor anak anjing oleh A. Silalahi. Yang mengherankanku dengan saling mengenduskan nafas (mungkin tukar nafas, haha) ketiga anjingku seakan sudah saling mengenal dan menjadi sangat akrab layaknya sebuah
keluarga”.

Jono :”Anjing memang kayak gitu, Din (nama sahabat si Jono, Syaifuddin). Itu namanya naluri sesama anjing”.

Syaifuddin :”Kalau manusia bisa kayak gitu, kan aman dunia…”

Jono :”Wah! Mau kau samakan antara anjing dengan manusia?!”

Syaifuddin :”Kenyataannya lebih baik anjing dari pada manusia kan?!”

Jono :”Ya gak gitulah, Din. Mana bisa kau simpulkan anjing lebih baik dari manusia…”

Itulah asal-muasal terjadinya perdebatan antara Joni dan Jono. Berikut adalah ringkasan salinan perdebatan di antara mereka, dengan sensor di beberapa bagian.
Jono :”Udin bilang antara anjing dan manusia masih lebih baik anjing…”

Joni :”Memang, bahkan ada manusia yang karena tindakannya menjadi lebih rendah dari anjing!”

Jono :”Mabuk Kamu?”

Joni :”maksudmu?”

Jono :”Ngomongnya ngawur!”

Joni :”Ngawur? Waktu kelas lima ESDE, ESEMPE juga pernah dipelajari, atau kamu yang gak inget ya, bahwa manusia itu adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna!”

Jono :”Saya ingat! Manusia adalah makhluk yang paling sempurna karena diberikan otak oleh Tuhan untuk berfikir, bukan seperti anjing yang gak bisa mikir!!”

Joni :”Itu yang diberitahukan gurumu?”

Jono :”Lebih kurang begitulah!”

Joni :”Kutanya sekali lagi, itu yang diberitahukan gurumu atau memang kau yang sudah lupa omongan gurumu?! Makanya kalau sedang belajar jangan tidur!”.

Jono :”………..???”

Joni :”Dengarkan ya, manusia itu disebut sebagai makhluk yang sempurna karena memiliki semua sifat makhluk ciptaan Tuhan, punya sifat tumbuhan, hewan, setan, malaikat. Bahkan manusia memiliki sifat penciptanya”.

Jono :”Maksudmu manusia memiliki sifat Tuhan? Sah, kamu mabuk, ngawur! Masa manusia yang nyata-nyata ciptaan Tuhan memiliki sifat Tuhan?! Mana mungkin yang diciptakan sama dengan penciptanya!”

Joni :”Sudahlah, kita tidur saja. Susah ngasi pemahaman sama orang pintar kayak kamu!”

Jono :”Ya sudah tidur saja! Susah ngomong sama orang pinter yang mabuk kayak kamu!”

Apa yang disampaikan Joni kepada Jono itu benar adanya. Manusia itu sempurna bukan karena diberi otak/akal oleh Tuhan. Banyak manusia yang dengan akalnya bertindak seperti hewan, setan, dan sebagainya. Mengambil harta yang bukan haknya, menganiaya/menzolimi sesama, rakus, tamak, iri, dengki, bla bla bla.

Manusia itu disebut makhluk yang paling sempurna dikarenakan memiliki semua sifat makhluk ciptaan Tuhan, misalnya sifat tumbuhan, sifat hewan, sifat setan, sifat nabi, sifat malaikat, bahkan sifat Tuhan. Bertambah sempurna jika otak/akal yang diberikan digunakan untuk memilih dan memilah, kemudian diputuskan dengan hati untuk dapat membedakan antara yang baik dan buruk. Pokoknya manusia diberi otak/akal untuk berfikir untuk memilih dalam berbuat/bertindak. Bertindak layaknya hewan, setan, malaikat, atau bertindak layaknya Tuhan.

Yang membedakan antara kita dengan Tuhan ‘mungkin’ kata MAHA.

23 thoughts on “Mengapa Manusia Makhluk Sempurna?”

  1. ada yg tau gk hadist yg mnjlskan bhwa mnusia itu makhluk smpurna karena mempunyai sifat2 ,Tumbuhan,hewan,and setan,klo ada yg tau tlong kasih tau ku,coz kbnykan tmn aku blang bhwa tak ada manusia yg smpurna karena manusia tuh tmpatnya slh ktanya

  2. @arie5758 e…MasBro Arie!
    Gak perlu sependapat Mas, biar semakin indah. Penulis seperti MasBro Arie memang punya pengalaman luas, hehehhhe.

    Thanks dah mampir. Postingannya memang dah lama, tapi kadang ada yang disesatkan google di halaman ini.

  3. Begitu masbro Isman muncul, saya langsung meluncur ke TKP sini. Kangen rasanya tak bercuap-cuap disini hehehe 🙂

    Saya sepakat jika manusia adalah makhluk sempurna karena memiliki sifat yang dimiliki makhluk Allah. Namun jika manusia yg berbudi luhur, baik hati dan tidak sombong dikatakan memiliki sifat Allah (Tuhan) saya masih kurang sependapat. Untuk statement ini saya sepakat dg komentar bang Hariyanto..

    Jika dalam psikologi kejiwaan ala Sigmund Freud, "aku" nya manusia terdiri dari 3 bagian: Id (perasaan/nafsu), super ego (norma/suara hati) dan ego (kesadaran). Dalam memutuskan sesuatu manusia akan mengalami perdebatan dg diri sendiri antara id dan super ego dan ego lah yang menjadi penentunya.
    Misal: saat kita menemukan uang dalam dompet dijalan. Id akan cenderung mendorong utk menyimpan uang itu krn kita menemukannya, namun super ego selalu memberi saran bahwa uang itu bukan milik kita selayaknya harus dikembalikan dg mencari data pemilik di dompet atau bertanya. Dan semua putusan akan ditentukan oleh ego.

    Btw… saya baru nyadar kalau ini postingan lama ya hahahaha… :D:D

  4. Perbedaan Manusia dan Allah Sang Khaliq sangatlah luas dan tak bisa diukur, ibarat perbandingan setetes air dengan kumpulan samudra yang ada di alam raya.
    Manusia diciptakan Allah dengan kesempurnaan sebagai manusia-hamba Allah, dan ditempatkan dengan derajat antara Malaikat dan Binatang.
    Karena manusia memiliki kemampuan malaikat, yaitu akal pengetahuan (malaikat tak memiliki hawa nafsu) dan manusia juga memiliki kemampuan binatang, yaitu hawa nafsu (binatang tak memiliki akal pengetahuan).
    jadi manusia itu ada yang berprilaku seperti malaikat karena bisa mengontrol hawa nafsunya dan mengutamakan akal pengetahuannya, dan ada juga manusia yang berprilaku seperti binatang karena dikuasai hawa nafsunya…salam idul fitri 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *