Hari Raya Oh Hari Raya

Ada yang membuat perasaanku tak nyaman saat menyambut hari raya tahun ini. Pasalnya adalah keputusan Menteri Agama Republik Indonesia yang menurut masyarakat di ‘kampungku’ telah menuai kontroversi. Tahulah orang kampung, dengan hanya menggunakan ilmu hitung-hitung mereka memutuskan bahwa hari raya (munculnya hilal) bertepatan dengan tanggal 30 Agustus 2011 sebelum tengah hari.

Bila hilal muncul setelah tengah hari maka puasa dapat dilanjutkan sampai sore hari atau sehari penuh. Bila hilal muncul sebelum tengah hari maka hari itu telah masuk pada 1 Syawal dan jatuhlah hukum haram berpuasa pada hari itu. Itulah yang menjadi ‘patokan’ bagi sebagian orang-orang tua di kampungku.
Senja itu, tanggal 29 Agustus 2011 selepas Magrib terdengar beberapa kali suara takbir berkumandang dari lonceng Musholah Annur menandakan telah sampai 1 Syawal. Selang beberapa saat suara takbir berhenti. Rupanya ada seseorang membawa kabar bahwa Menteri Agama RI memutuskan bahwa di Indonesia 1 Syawal bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011. Si Pembawa kabar bilang hari raya juga sama dirayakan di beberapa negara tetangga pada tanggal 31 Agustus juga.

Dengan megendarai sepeda motor ‘butut’ aku datang ke Musholah. Wah, ternyata banyak orang di sana. Mereka menghantarkan zakat fitrah untuk diserahkan kepada badan amil, karena mereka yakin esok adalah Syawal! Saat kupandangi wajah mereka, aku tau sebagian mereka ada yang kecewa dengan keputusan pemerintah yang terlambat. Kudengar malam itu juga badan Amil membagikan zakat fitrah kepada yang berhak menerimanya.

Pemerintah ‘menganggap’ rakyat Idonesia semua sudah punya fasilitas komunikasi semacam TV. Jadi keputusan yang mendadak dangdut sekalipun akan cepat di sedot oleh rakyatnya. TV? Jaringan listrik saja gak nyampe! Dan yang sudah ada saluran listrikpun, arusnya gak bisa diharapkan! Mati lampu? Wajib! Walaupun di bulan Ramadhan di mana waktu itu listrik benar-benar dibutuhkan, orang PLN menunjukkan ketidakprofesinalan ngurusin usahanya.

Pagi tanggal 30 Agustus aku mengunjungi ibuku di dusun.
“gak jadi hari raya ya, Is” sapanya.
“Jadilah Mak, tapi besok!”.
“Kamu puasa?’
“Gak Mak! Takut termakan Syawal, mending kuganti aja lain kali”.

Haha, rupanya di dusun ibukulah suasana yang kontroversi terjadi. Pada umumnya mereka kecewa bukan karena hari rayanya, tapi karena keputusan pemerintahnya. Apalagi ada sebagian ummat Islam yang sudah hari raya duluan. Apa ummat Islam sudah terpecah-pecah gara-gara mempertahankan pendapatnya masing-masing?

Tahukah anda apa yang telah mereka ‘argumentasikan’ akibat dari keputusan pemerintah yang mendadak dangdut? Di zaman canggih dengan peralatan yang serba modern seperti ini, untuk menentukan hilal saja kewalahan ? Apa peredaran tata surya meleset sehingga susah menentukan hilalnya? Atau langit banyak awannya? Rudal yang hanya diprogram dengan garis khayal saja bisa jatuh dengan tepat pada sasarannya!
Kata Pak Hamzah tetanggaku:” Inilah suasana hari raya, Man! Perhatikan tumbuh-tumbuhan, hewan, dan cuaca hari ini semua menunjukkan kalau hari ini adalah 1 Syawal”. Buk Sri yang sempat membuat rendang, ketupat, dan lontong nampaknya adalah ibu yang paling kecewa. Yah …walaupun begitu mereka tetap berharap moga-moga di tahun mendatang gak terjadi lagi ‘hal sepele’ seperti ini.

Belum terlambat buat kita…Selamat hari raya, mohon maaf zahir dan bathin, Bro!

19 thoughts on “Hari Raya Oh Hari Raya”

  1. @IsmanPunggul: Trimakasih mas isman punggul atas komentar dan masukannya. sangat bermanfaat dan membangun. Maklum mas, saya masih pemula dalam dunia Blogging (€Neubi)dan baru pertama kalai ini mencoba mengikuti kontes SEO ini. trimakasih banyak atas dukungannya. masih harus belajar lebih banyak lagi ne saya dengan mas isman. salam blogger.

  2. Btl jg tu pak sy pun kecewa ama pemerinth,soal y lemang ku basi krna gk jd hr raya..Btl jg tu pak sy pun kecewa ama pemerinth,soal y lemang ku basi krna gk jd hr raya..

  3. Semoga perbedaan ini menjadi rahmat bersama..yang tau hanya Allah, yang penting ketulusan kita dalam beribadah dan kita tidak terpecah. Trima kasih dan Maaf Lahir & Bathin bila kata-kata saya kurang berkenaan di hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *