Mengajarkan Seks Kepada Siswa Kelas 6 SD

Mengajarkan seks kepada siswa kelas 6 SD? Apakah perlu siswa yang masih duduk di SD kelas 6 diajari tentang seks? Pertanyaan itu mungkin spontan timbul ketika anda terbaca judul di atas. Judul sengaja dibuat demikian biar keren aja, hahaha. Sebenarnya lebih bagus “Pendidikan Seks Bagi Siswa Kelas 6 SD“. Apa yang kupaparkan berikut ini bukanlah jawaban atas pertanyaan anda tersebut.

Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan Sudirfan siswa kelas 6 SD yang sedang belajar IPA (sains) tentang ‘Mengidentifikasi Cara Perkembangbiakan Manusia’.
Pertanyaannya seperti ini;
Pak, bagaimana cara masuknya sel sperma hingga bertemu dengan sel telur?”
Sekiranya saat itu anda yang sedang berdiri di depan kelas, apa jawaban anda? Jangankan anda, aku juga terkejut dengan pertanyaan siswaku tersebut. Nah kebetulan waktu itu aku yang berdiri di depan kelas, maka silahkan saja ikuti apa kira-kira jawabanku nantinya!

Selama aku menjadi guru (yang kurang wawasan), belum pernah kudengar atau kubaca pendapat dari para ahli yang memberitahukan kapan saat yang paling tepat mengajarkan pendidikan seks bagi anak-anak dan bagaimana cara mengajarkannya. Yang ada cuma “pendidikan seks harus diberikan sejak dini…”. Gak apa-apa, itu artinya mereka (para ahli) sadar bahwa jika pendidikan seks diberikan setelah atau pada masa puber, maka sudah terlambat. Remaja yang mengetahui seks dari ‘nalurinya’ sangat berbahaya. Ingat! Seks itu merupakan bagian dari kehidupan kita, sama seperti makan, minum, dan tidur yang dikenalkan kepada seseorang sejak dari bayi. Tentunya secara bertahap!

Di negara kincir angin (Belanda) Pendidikan seks diberikan sejak anak usia 5 tahun. Bahkan di beberapa sekolahnya telah mengajarkan pendidikan seks dengan gambaran yang sebenarnya. Di Indonesia, walah! Tabu, pantang, jorok, porno, bla bla bla. Beberapa rekan guru di sekitarku saja kalau sudah bicara masalah seks, reaksi mereka langsung berubah.

Kembali ke rel permasalahan…di kelasku, dengan tenang kami bahas apa yang seharusnya dan layak untuk mereka ketahui tentang pendidikan seks ini. Kuanggap inilah waktu yang tepat untuk ‘melanjutkan’ pendidikan seks, karena kebetulan materi pelajaran yang dibahas tentang cara perkembangbiakan manusia.

Di kelas-kelas sebelumnya, mereka telah mengetahui cara membersihkan alat kelamin masing-masing. Kini mereka akan tahu bahwa alat yang selama ini mereka rawat adalah sebagian alat reproduksi. Hanya dua orang siswa yang cekikikan. Kegiatan yang kurencanakan ada 8 (maklum, suka angka 8), yaitu sebagai berikut:

  • Aku tidak memisahkan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan karena jumlah mereka hanya 18 orang yang kesemuanya tidak akan lepas dari kontrolku (sebenarnya lebih baik dipisahkan)
  • Memperhatikan gambar-gambar sambil membaca keterangannya di buku masing-masing
  • Mempersilahkan siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahaminya. Saat inilah banyak pertanyaan yang diajukan siswa
  • Aku tidak menjawabnya secara langsung (sebaiknya demikian), tapi bisa disesuaikan dengan contoh lain seperti hewan yang berkembang biak dengan cara melahirkan
  • Jika diperlukan jawablah pertanyaan siswa dengan jujur. Nah pertanyaan siswaku Sudirfan kujawab pada susana seperti ini (suasana yang memerlukan kejujuran apa adanya)
  • Kuberitahukan pada kelas bagaimana cara masuknya sel sperma sehingga bertemu dengan sel telur. Mula-mula kucontohkan pada hewan, namun karena ada siswa yang coba memastikan apakah sama dengan manusia maka kukatakan ya. Tetapi ‘cara’ manusia yang berbudaya, beradab, dan beragama sangat jauh berbeda dengan cara yang dilakukan hewan.
  • Sekalian kuberi mereka (tips khusus pria) cara merawat senjatanya dengan baik dan bagaimana cara menghindari perbuatan negatif yang dilarang agama “sejak dini”
  • Semua siswa serius dan gak ada yang cekikikan.

Itulah yang dapat dan mampu kulakukan sebagai seorang guru yang baru tahun ini ‘memegang’ kelas 6 dalam usaha menyampaikan informasi yang benar tentang pendidikan seks. Sebelumnya? Aku kebagian tugas mengajar di kelas 5, Gan!.

Tahukah anda apa yang terjadi padaku setelah aku mengajarkan materi tersebut? Timbul perasaan menyesal, bersalah, dan ragu apakah tindakanku mengajarkan materi tersebut sudah benar? Apakah waktunya sudah tepat? Apakah cara atau metode yang kulakukan tidak disalahkan oleh ‘para ahli’ nantinya? Menurut anda, bagaimana tindakanku tersebut? Silahkan meluahkannya pada kotak komentar yang tersedia.

16 comments

  1. Interesting information, thank you for sharing them in this posting.

  2. Troy Jaudon says:

    You are a very smart person!

  3. Keep working ,splendid job!

  4. U. SYAMSUDIN says:

    Tindakan anda mengajarkan seks pada siswa kelas VI SD dengan cara seperti yang anda paparkan di atas, itu tindakan yang tepat, benar. Siswa kelas VI SD sudah saatnya menerima pendidikan seks apalagi jika diantara siswa tersebut ada yang sudah memasuki masa puber.
    Coba anda pikirkan jika diantara anak yang sudah memasuki masa puber tidak pernah mendapatkan pendidikan seks, sedangkan pada masa puber siswa perempuan sudah mengalami menstruasi, laki-laki sudah mengalami mimpi basah, apakah dia akan mengerti cara membersihkan tubuhnya(bersuci) dari darah menstruasi atau bekas mimpi basah untuk laki-laki?. Bagaimana sholat mereka, apakah sah?.
    Jadi menurut saya selagi tujuan kita baik, tidakan yang anda lakukan sudah benar.

    • admin says:

      Terima kasih atas dukungannya Pak! Saya memang masih awam untuk hal-hal seperti itu. Para ahli hanya sependapat bahwa pendidikan seks perlu diajarkan sejak dini, tetapi Saya belum menemukan referensi yang pas: “sejak dini” itu kapan dan pelajaran apa saja yang perlu disampaikan pada usia itu.

  5. Kang White says:

    emang gpp tuh ngasih pendidikan seks ma anak SD??
    ntar malah dia pgen coba2 lagi..

    • admin says:

      Ya, ngajarinya secara bertahap, Mas. Ingat loh, bukan ngajarin ngesek!
      Dan harus diberi pemahaman pula tentang pantang larang serta hukum (termaasuk hukum agama) yang berlaku.
      Sangat berbahaya jika siswa duluan tahu dari sumber lain tanpa petunjuk/arahan yang benar, itulah yang menyebabkan terjadinya coba2.

  6. ismanpunggul says:

    @uniknyaSudah, aku yang melakukan metode ini.

  7. ismanpunggul says:

    @CahNdesoSebenarnya belum berani dan belum kreatif…

  8. uniknya says:

    Artikel yang menarik sob :)
    apa para guru sudah melakukan metode seperti ini ?

  9. CahNdeso says:

    Wow… strategi yang kreatif dan berani. Namun diperlukan keahlian untuk berdiplomasi (sex?!).. xaxaxa… postingan yang bermanfaat!

  10. isman says:

    @Prapatan KertekTerima kasih telah berkomentar Mas..

  11. Pengenalan lebih dini akan membawa hasil yang lebih baik tentunya..!
    Sekalian memberitahu ada award untuk sobat jika berkenan silahkan diambil untuk diteruskan pada sesama blogger.!

  12. ismanpunggul says:

    @CheloniaYa mudah-mudahan Pak..

  13. Chelonia says:

    Mudah-mudahan Pak dengan mendengarkan penjelasan yg Bapak sampaikan siswa tidak salah dalam menyikapi seks, agar perilaku menyimpang tidak terjadi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>