Mengenal Bapak Pendidikan Nasional: RM Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantoro)

Selamat Hari Pendidikan Nasional bagi seluruh praktisi di bawah payung pendidikan dan segenap rakyat Indonesia umumnya. Pada kesempatan ini saya akan mengingatkan kembali (manatau lupa) kepada agan-agan semua tentang sejarah ringkas seorang tokoh Pahlawan Nasional Indonesia yang erat kaitannya dengan Hari Pendidikan Nasional di negeri ini.

Hari ini pada tahun 1889 (123 tahun yang lalu) di Yogyakarta telah lahir seorang putra dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta, yang bernama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang kemudian lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Semasa hidupnya, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat (Ki Hadjar Dewantoro) adalah seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda, dan pendiri Perguruan Taman Siswa.

Sebagai seorang bangsawan Soewardi berkesempatan mengenyam pendidikan yang tinggi. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak tamat karena sakit. Kemudian Ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik.

Sejak berdirinya Budi utomo tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) tentang pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama Budi Utomo di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi pernah menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker. Pada tanggal 12 Desember 1912 Ernest Douwes Dekker mengajak Soewardi dan dr. Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Partij, yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1913 Soewardi ikut membentuk Komite Bumiputra. Melalui Komite inilah Ia mengkritik pemerintahan Belanda yang hedak merayakan kemerdekaannya yang ke 100 dari penjajahan Perancis. Sindiran pedas Beliau melalui tulisan “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: “Als ik een Nederlander was”), yang dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan Ernest Douwes Dekker membuatnya dibuang ke negeri Belanda. Kesempatan itu digunakannya untuk mendalami ilmu tentang pendidikan dan pengajaran hingga memperoleh gelar Europeesche Akte (Akta Guru Eropa).

Bulan September 1919, Soewardi kembali ke Indonesia. Ia langsung bergabung dengan sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajarnya dari sekolah ini digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang Ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922 yaitu Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa.

Saat berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa (Nasional 1922), Ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantoro dan gelar kebangsawanannya (Raden Mas) tidak digunakan lagi. Tujuannya supaya Ia bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Ki Hadjar dewantoro diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) pada tahun 1957 dari Universitas Gadjah Mada (universitas tertua di Indonesia). Selanjutnya dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia atas jasanya dalam dunia pendidikan Indonesia, dan hari kelahirannya 2 Mei dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959.

Disalin dari: wikipedia.org dan Buku IPS SD kelas 5

8 thoughts on “Mengenal Bapak Pendidikan Nasional: RM Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantoro)”

  1. Ki Hadjar Dewantara, seorang bangsawan yang rela tidak memakai gelar kebangsawanannya untuk terus mengangkat harkat bangsa Indonesia melalui pendidikan. Sepak terjang serta perjuangannya di dunia pendidikan sangat berarti, dan semoga bisa dijadikan inspirasi bagi kalangan pendidik dimanapun berada. Juga kita para blogger pun punya andil yg sama… dg berbagi ilmu dalm postingan, akan menambah wawasan bagi yg membacanya.

    Seperti kata pepatah Islam, “Jika ingin selamat di dunia harus punya ilmu, jika ingin selamat di akhirat juga dg ilmu, dan jika ingsin selamat di dari keduanya harus juga dilandasi dg ilmu.”

    1. Betul Mas Bro, semoga perjuangan beliau bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.
      “Jika ingin selamat di dunia dan akhirat harus punya ilmu” Itulah sebabnya ilmu merupakan harta yang tak ternilai harganya.
      Terima kasih Gan MasBro!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>